Selasa, 24 November 2015

Lucy Australophitecus

Siapakah Lucy Si Australopithecus? – Tepat pada hari ini yaitu tanggal 24 November 2015 Google Doodle memperingati hari ulang tahun yang ke 41 untuk penemuan Lucy Australopithecus.
Siapakah Lucy Si Australopithecus
Hari ini 24 november 2015 merupakan 41 tahun ditemukannya Lucy, Google Doodle pun memajang gambar lucy di halaman utamanya sebagai penghotrmatan kepada para peneliti (via google.co.id)
Siapakah Lucy Si Australopithecus ?
Lucy sendiri adalah nama yang diberikan untuk koleksi tulang fosil yang pernah dibuat untuk kerangka Hominid (kera besar) dari spesies Australopithecus afarensis, yang tinggal di Ethiopia 3.2 juta tahun yang lalu. Lucy Australopithecus afarensis juga merupakan species Hominid (kera besar) tertua yang pernah di temukan.

Lucy Australopithecus pertama kali ditemukan pada tahun 1973 oleh para peneliti arkeolog. Peneliti menemukan fosil Lucy dengan kondisi 40 persen dari kerangka lengkapnya, sebagian fosilnya sudah hancur .

Tak lama setelah digali , jelaslah Lucy adalah salah satu fosil yang paling penting yang pernah ditemukan , ketika para peneliti merillis bahwa Lucy Australopithecus merupakan spesies Hominid (kera besar) yang sebelumnya tidak diketahui.
Lucy dalam bahasa Ethiopia dinamakan dengan Dinqineš atau bisa dibaca "Dinkenesh" yang memiliki arti "Yang Menakjubkan", adalah nama yang digunakan untuk menamai fosil tulang spesies Australopithecus Afarensis yang di temukan di Hadar, Lembah Awash, Depresi Afar, Ethiopia pada 41 tahun yang lalu. Lucy diperkirakan hidup pada 3.2 juta tahun yang lalu. Para ahli memperkirakan tinggi Lucy hampir sama dengan tinggi anak anak modern saat ini, dengan tinggi yang tidak lebih dari 100 cm.

Lalu apa sebenarnya Australopithecus itu? Australopithecus berarti "kera dari selatan". Oleh Donald C Johanson penemu Lucy, Australopithecus dinyatakan sebagai spesies yang berdiri dan berjalan dengan tegak. Pendapat itu dipercayai selama beberapa tahun. Hingga akhirnya beberapa ilmuwan membantah pernyataan itu. Dua ahli anatomi terkenal dari Inggris dan Amerika yaitu Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard menunjukkan bahwa makhluk ini tidak berjalan tegak seperti manusia. Penelitian mereka bahkan mencapai kesimpulan bahwa Australopithecus hanyalah spesies kera biasa dan sama sekali tidak berjalan dengan tegak.

Australopithecus Afarensis
Australopithecus Afarensis
Pada awal tahun 2007, Lucy si Australopithecus sempat dipamerkan di Amerika Serikat selama enam tahun. Lalu kemudian pada 1 Mei 2013, fosil yang memiliki tinggi 107 cm dan berat sekitar 27 kg itu dikembalikan pada pemerintah Ethiopia. 

Pameran Lucy si Australophitecus  di Amerika
Pameran Lucy si Australophitecus  di Amerika
Lucy merupakan fosil yang terpenting dalam sejarah Australopithecus. Meskipun masih terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah Lucy ini termasuk dalam nenek moyang manusia, ditemukannya Lucy juga termasuk dalam bagian sejarah usaha untuk mengungkap bagaimana sebenarnya spesies bernama manusia terbentuk. Untuk itulah Google pun memperingati tanggal ditemukannya Lucy dengan mengabadikannya dalam daftar global doodle yang berlaku untuk seluruh negara di dunia.

 
Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang Lucy Australopithecus afarensis yan dikutip dari indpendent.co.uk
.
Lucy berjalan tegak

Berbeda dengan spesies kera kebanyakan, Lucy memiliki keunikan tersendiri, yang salah satunya adalah cara berjalannya yang tegak sama persis seperti manusia, Lucy mampu berjalan dengan dengan kaki.

Tidak ada yang tahu bagaimana dia meninggal
Hingga saat ini, belum diketahui bagaimana Lucy meninggal, belum ada bukti kuat yang menunjukan bagaimana proses kematian Lucy Australopithecus sang Hominid tertua di dunia.’

Lucy Australopithecus memiliki tubuh yang pendek

Meski bisa berjalan tegak layaknya manusia, Spesies Lucy Australopithecus afarensis, namun ukuran mereka jauh lebih kecil daripada manusia. Tinggi badannya hanya 1.1m tinggi dan beratnya di 29kg.

Nama Lucy sempat diabadikan dalam sebuah film berjudul “Lucy” yang diperankan Scarlett Johansson 2014 silam. Namun, film ini tidak menjelaskan tentang siapakah Lucy si Australopithecus.
Dilansir laman BBC, Mei 2015 lalu, spesies baru dari manusia purba telah ditemukan di wilayah Afar, Ethiopia. Dari hasil penelitian, spesies baru ini hidup 3,3 juta dan 3,5 juta tahun lalu.
Lucy menjadi nama yang diberikan untuk koleksi tulang fosil yang pernah dibuat untuk kerangka Hominid (kera besar) dari spesies Australopithecus afarensis, yang tinggal di Ethiopia 3.2 juta tahun yang lalu. Lucy Australopithecus afarensis juga merupakan species Hominid (kera besar) tertua yang pernah di temukan.
Adalah Donald Carl Johanson yang menemukan Lucy tepatnya pada tanggal 24 November 1974 di sekitar pulau Hadar, Lembah Awash, Depresi Afar, Ethiopia.
Nama Lucy diberikan pada fosil manusia purba berjenis kelamin perempuan dari golongan Australopithecus. Golongan ini merupakan golongan nenek moyang manusia purba yang kira kira sudah punah sejak lebih dari 3,6 juta tahun yang lalu.
Peneliti menemukan fosil Lucy dengan kondisi 40 persen dari kerangka lengkapnya, sebagian fosilnya sudah hancur.
Tak lama setelah digali , jelaslah Lucy adalah salah satu fosil yang paling penting yang pernah ditemukan , ketika para peneliti merillis bahwa Lucy Australopithecus merupakan spesies Hominid (kera besar) yang sebelumnya tidak diketahui.
Telegraph.co.uk mencatat, setidaknya ada tiga fakta menarik yang bisa menjawab pertanyaan “siapakah Luci si Australopithecus?” Inilah fakta menarik itu seperti dikutip Solopos.com;
Berjalan Tegak
Berbeda dengan spesies kera kebanyakan, Lucy memiliki keunikan tersendiri, yang salah satunya adalah cara berjalannya yang tegak sama persis seperti manusia, Lucy mampu berjalan dengan dengan kaki.
Meninggal Misterius
Hingga saat ini, belum diketahui bagaimana Lucy meninggal, belum ada bukti kuat yang menunjukan bagaimana proses kematian Lucy Australopithecus sang Hominid tertua di dunia.
Bertubuh Pendek
Meski bisa berjalan tegak layaknya manusia, Spesies Lucy Australopithecus afarensis, namun ukuran mereka jauh lebih kecil daripada manusia. Tinggi badannya hanya 1.1m tinggi dan beratnya di 29 kg.

Lucy dalam bahasa Ethiopia dinamakan dengan Dinqineš atau bisa dibaca "Dinkenesh" yang memiliki arti "Yang Menakjubkan", adalah nama yang digunakan untuk menamai fosil tulang spesies Australopithecus Afarensis yang di temukan di Hadar, Lembah Awash, Depresi Afar, Ethiopia pada 41 tahun yang lalu. Lucy diperkirakan hidup pada 3.2 juta tahun yang lalu. Para ahli memperkirakan tinggi Lucy hampir sama dengan tinggi anak anak modern saat ini, dengan tinggi yang tidak lebih dari 100 cm.

Lalu apa sebenarnya Australopithecus itu? Australopithecus berarti "kera dari selatan". Oleh Donald C Johanson penemu Lucy, Australopithecus dinyatakan sebagai spesies yang berdiri dan berjalan dengan tegak. Pendapat itu dipercayai selama beberapa tahun. Hingga akhirnya beberapa ilmuwan membantah pernyataan itu. Dua ahli anatomi terkenal dari Inggris dan Amerika yaitu Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard menunjukkan bahwa makhluk ini tidak berjalan tegak seperti manusia. Penelitian mereka bahkan mencapai kesimpulan bahwa Australopithecus hanyalah spesies kera biasa dan sama sekali tidak berjalan dengan tegak.

Australopithecus Afarensis
Australopithecus Afarensis
Pada awal tahun 2007, Lucy si Australopithecus sempat dipamerkan di Amerika Serikat selama enam tahun. Lalu kemudian pada 1 Mei 2013, fosil yang memiliki tinggi 107 cm dan berat sekitar 27 kg itu dikembalikan pada pemerintah Ethiopia. 

Pameran Lucy si Australophitecus  di Amerika
Pameran Lucy si Australophitecus  di Amerika
Lucy merupakan fosil yang terpenting dalam sejarah Australopithecus. Meskipun masih terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah Lucy ini termasuk dalam nenek moyang manusia, ditemukannya Lucy juga termasuk dalam bagian sejarah usaha untuk mengungkap bagaimana sebenarnya spesies bernama manusia terbentuk. Untuk itulah Google pun memperingati tanggal ditemukannya Lucy dengan mengabadikannya dalam daftar global doodle yang berlaku untuk seluruh negara di dunia.

Dengan peringatan ini, tentunya Google ingin mengajak para penggunanya untuk mengetahui dan menambah wawasan mengenai Siapakah Lucy si Australopithecus itu? Dengan begitu maka bagaimana usaha manusia dulu untuk mengetahui asal usul manusia tidak akan dengan mudah dilupakan. Pun begitu, semua manusia berhak untuk mempercayai teori dan pengetahuan mana yang menurut mereka benar, dan kita sebagai manusia tentu tidak harus mempercayai teori evolusi jika memang itu bertentangan dengan apa yang kita yakini. 

 Sekian yang dapat anda ketahui tentang Lucy Australophitecus. Dan di link berikut anda bisa melihat beberapa info tentang Lucy di https://www.youtube.com/watch?v=f3nUKUPYdf4


Tidak ada komentar:

Posting Komentar